Emang Susah Memahami Perasaan Orang

Posted: Februari 1, 2009 in jeritan-jeritan ku, kehidupanku

Kemarin aku pulang ke Bogor, Parung sendiri. Biasanya dijemput tapi karena papaku lagi dinas ke NTT, yah, pulang sendiri. Aku jarang banget naik angkot. Apalagi angkot yang ngetem. Tapi bagaimanapun juga, aku bersabar nunggunya. Malah waktu itu aku senyum-senyum nggak jelas sendiri.

Kenapa?
Hari dikala itu puanas buanged. Yang namanya stasiun, teriakan dan debu nggak bakal absen dari tempat itu. Teriakan dari si abang supir angkot, si sewa, si anak sewa, de el el. Deru mobil dan bus pun ikut-ikutan menyemarakan suasana di siang itu.
“PARUNG PARUNG! TEH PARUNG?! MBAK PARUNG?! PARUUUUUUUUUUUUUUUUUNG!!!!”,
“BANG, CEPET DONG! PANAS TAUK!”, protes ibu gemuk seraya mengelap keningnya yang berkeringat.

Karena tangannya gemuk, jilbab yang beliau kenakan pun jadi miring kekiri sehabis mengelap keringatnya. Bukannya membetulkan kembali jilbabnya, ini malah meneruskan kembali curhatnya. Untunglah aku nggak duduk tepat disampingnya. Kalau iya, aku bakal kena hujan mendadak dari mulutnya.
“GERAAAAAAAH NI BANG, TURUN NTAR KALO NGGAK JALAN NIIIIEEEE…..”.

“YA ELAH BU, TINGGAL BUKA AJA JENDELANYA, GAMPANG”, kata si abang sopir lalu menyuruh anak buahnya yang duduk malas disamping bangku supir. Anak buahnya itu masih berdaun hijau pekat, kira-kira masih SMP-lah,”EH NYONG, BUKAIN TUH JENDELANYA”,
Walau jendela udah di buka, mencari-cari sewa yang udah memakan waktu 30 menit, tetap aja mobil yang ku taiki ini pun masih ada 4 orang.
“Tuh kan, percuma nunggu dari tadi si abang ini”, kembali lagi si ibu mencurahkan isi hatinya.Sementara si abang jadi tambah merana. Karena aku duduk tepat dibelakang supir, jelas banget ngeliat wajahnya yang hampir nangis. Keringatnya mengalir dari kepala berambut keriting menuju ke lehernya yang hitam.

“Mimpi apa gua semalam…sewa nggak ada,pesaing (mobil angkot) banyak, ah..nasib nasib…”, sembari memegang keningnya. mungkin puyeng kali tuh kepala (ya eyalah!?!?) ku merasa kasian….
Aku nggak menyalahkan si abang supir angkot…. nggak juga menyalahkan si ibu gemuk itu. yah… kedua-duanya sama egois tapi emang sih wajar. Si supir angkot nggak tau gimana rasanya hari para sewa yang dongkol menunggu lama mobil berangkat karena berbagai keperluan mereka. Dan kebalikannya, si sewa nggak tau gimana perasaan si abang supir yang harus membayar beberapa jumlah setoran uang ke bosnya. betapa merananya kalau ia menombok. ah…
Kalau saja semua orang di muka bumi mengerti peranan masing-masing orang, pasti akan damai….
*PERHATIAN BAGI WARGA INDONESIA YANG BERADA DI PINGGIR JALAN:
Jawablah ‘ENGGAK’, jika anda tidak bermaksud menaiki angkot si supir yang menanyai anda. Karena kalau anda tidak memperdulikannya, hati mereka akan mengeluarkan darah! TER-IRIS-IRIS!!!! Bagaimanapun mereka juga manusia yang ingin diperlakukan sama, sebagaimana Tuhan menganggap semua manusia adalah sama di mata-Nya..

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    oke deh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s